MELIANA / H14100125 LASKAR 24

Perpisahan

Suatu hari di penghujung masa SMP saya pernah bertanya kepada salah satu guru Bimbingan Konseling di sekolah saya tentang perpisahan. saya berkata, “Ibu, saya takut sekali menghadapi perpisahan”. Lalu guru saya berkata, “Untuk apa takut? Perpisahan itu pasti akan dirasakan oleh semua orang, hanya waktu yang membedakan kapan masing-masing orang akan merasakannya”. Lalu beliau menambahkan, “Perpisahan adalah awal bagi sesuatu yang baru, setiap perpisahan pasti akan melahirkan pencerahan dan semangat baru yang akan terbekal dalam waktu selanjutnya. Meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal yang alami dan selalu menjadi bagian hidup kita semua. Karena setiap orang pasti akan meninggalkan kamu, atau sebaliknya kamu yang akan meninggalkan mereka semua. Tidak ada yang abadi di dunia ini seperti bumu yang selalu berputar, siang yang selalu bergantian datang dengan malam dan sebagainya. Itulah proses. Itulah roda. Itulah waktu.”
“Setiap perpisahan pasti meninggalkan rasa sedih, tapi cobalah untuk mencari hikmah dari setiap rasa sedih itu. Kelak dari perpisahan kamu akan belajar bahwa hati kamu telah menjadi lebih indah dan kuat dari sebelumnya. Bukankah serbuk sari harus meninggalkan tangkainya terlebih dahulu agar dapat bertemu putik dan menjadikannya buah?? Begitu pula kehidupan manusia”
Saya resapi semua penjelasan yang diberikan guru Bimbingan Konseling saya itu. Setelah saya mengerti dengan pasti, saya keluar ruangan BK dengan senyum.

Pengemis Buta
Paman saya pernah memberikan sebuah kisah yang sangat memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Pernah ada seorang anak buta yang duduk sambil menengadahkan tangan yang menggenggam sebuah kaleng berkarat di depan sebuah supermarket. Seorang anak buta yang mengemis berharap belas kasih dan sikap peduli dari orang-orang yang berlalu lalang di depan supermarket itu. Dia memasang tulisan “Saya buta, tolong kasihanilah Saya” di tempat ia duduk.
Tiba-tiba lewatlah seorang bapak tua di depan pengemis buta itu. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar uang seribu, lalu memasukkannya ke dalam kaleng berkarat milik pengemis buta itu. Sejenak ia terdiam menatap tulisan yang dibuat pengemis buta itu. Dahinya berkerut seperti memikirkan sesuatu.
Sambil tersenyum tiba-tiba ia meminta papan itu dan menuliskan sebaris kalimat dibalik papan itu. Setelah selesai, ia meletakkan kembali papan itu di posisi semula kemudian berjalan pergi sambil tetap tersenyum menjauhi pengemis buta itu. Tidak lama setelah bapak tua itu pergi, berpuluh-puluh uang receh jatuh memenuhi kaleng berkarat milik pengemis buta itu.
Beberapa saat kemudian bapak tua itu kembali ke supermarket untuk menemui pengemis buta itu. Dengan penuh kebingungan si pengemis buta bertanya kepada bapak tua, “Sebenarnya apa yang Bapak tuliskan di papan saya?”. Sambil tetap tersenyum, yang tentu saja tidak dapat dilihat oleh pengemis buta itu, ia berkata, “Saya menulis : Hari yang indah, tetapi sayang saya tidak dapat ikut menikmatinya”. Pengemis buta itu masih tetap tidak mengerti dan bertanya, “Apa maksudnya, Pak?”. Bapak tua itu berkata, “Saya hanya tidak ingin orang-orang memberikanmu uang hanya karena kasihan terhadap kondisimu. Saya hanya ingin orang-orang memberikanmu uang sebagai rasa terimaksasih karena telah diingatkan untuk selalu merasa beruntung dan bersyukur kareng masih dapat melihat”.
Bapak tua itu lalu berkata, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya juga ingin memberi pemahaman bahwa ketika kita diberikan 10 alasan untuk menangis maka tunjukkanlah bahwa masih ada 100 alasan lainnnya untuk tersenyum.”

MELIANA / H14100125 LASKAR 24

CERITA INSPIRASI 1

Perpisahan

Suatu hari di penghujung masa SMP saya pernah bertanya kepada salah satu guru Bimbingan Konseling di sekolah saya tentang perpisahan. saya berkata, “Ibu, saya takut sekali menghadapi perpisahan”. Lalu guru saya berkata, “Untuk apa takut? Perpisahan itu pasti akan dirasakan oleh semua orang, hanya waktu yang membedakan kapan masing-masing orang akan merasakannya”. Lalu beliau menambahkan, “Perpisahan adalah awal bagi sesuatu yang baru, setiap perpisahan pasti akan melahirkan pencerahan dan semangat baru yang akan terbekal dalam waktu selanjutnya. Meninggalkan dan ditinggalkan adalah hal yang alami dan selalu menjadi bagian hidup kita semua. Karena setiap orang pasti akan meninggalkan kamu, atau sebaliknya kamu yang akan meninggalkan mereka semua. Tidak ada yang abadi di dunia ini seperti bumu yang selalu berputar, siang yang selalu bergantian datang dengan malam dan sebagainya. Itulah proses. Itulah roda. Itulah waktu.”
“Setiap perpisahan pasti meninggalkan rasa sedih, tapi cobalah untuk mencari hikmah dari setiap rasa sedih itu. Kelak dari perpisahan kamu akan belajar bahwa hati kamu telah menjadi lebih indah dan kuat dari sebelumnya. Bukankah serbuk sari harus meninggalkan tangkainya terlebih dahulu agar dapat bertemu putik dan menjadikannya buah?? Begitu pula kehidupan manusia”
Saya resapi semua penjelasan yang diberikan guru Bimbingan Konseling saya itu. Setelah saya mengerti dengan pasti, saya keluar ruangan BK dengan senyum.

CERITA INSPIRASI 2

Pengemis Buta

Paman saya pernah memberikan sebuah kisah yang sangat memotivasi kita untuk selalu bersyukur. Pernah ada seorang anak buta yang duduk sambil menengadahkan tangan yang menggenggam sebuah kaleng berkarat di depan sebuah supermarket. Seorang anak buta yang mengemis berharap belas kasih dan sikap peduli dari orang-orang yang berlalu lalang di depan supermarket itu. Dia memasang tulisan “Saya buta, tolong kasihanilah Saya” di tempat ia duduk.

Tiba-tiba lewatlah seorang bapak tua di depan pengemis buta itu. Ia merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan selembar uang seribu, lalu memasukkannya ke dalam kaleng berkarat milik pengemis buta itu. Sejenak ia terdiam menatap tulisan yang dibuat pengemis buta itu. Dahinya berkerut seperti memikirkan sesuatu.

Sambil tersenyum tiba-tiba ia meminta papan itu dan menuliskan sebaris kalimat dibalik papan itu. Setelah selesai, ia meletakkan kembali papan itu di posisi semula kemudian berjalan pergi sambil tetap tersenyum menjauhi pengemis buta itu. Tidak lama setelah bapak tua itu pergi, berpuluh-puluh uang receh jatuh memenuhi kaleng berkarat milik pengemis buta itu.

Beberapa saat kemudian bapak tua itu kembali ke supermarket untuk menemui pengemis buta itu. Dengan penuh kebingungan si pengemis buta bertanya kepada bapak tua, “Sebenarnya apa yang Bapak tuliskan di papan saya?”. Sambil tetap tersenyum, yang tentu saja tidak dapat dilihat oleh pengemis buta itu, ia berkata, “Saya menulis : Hari yang indah, tetapi sayang saya tidak dapat ikut menikmatinya”. Pengemis buta itu masih tetap tidak mengerti dan bertanya, “Apa maksudnya, Pak?”. Bapak tua itu berkata, “Saya hanya tidak ingin orang-orang memberikanmu uang hanya karena kasihan terhadap kondisimu. Saya hanya ingin orang-orang memberikanmu uang sebagai rasa terimaksasih karena telah diingatkan untuk selalu merasa beruntung dan bersyukur kareng masih dapat melihat”.

Bapak tua itu lalu berkata, “Selain untuk menambah penghasilanmu, saya juga ingin memberi pemahaman bahwa ketika kita diberikan 10 alasan untuk menangis maka tunjukkanlah bahwa masih ada 100 alasan lainnnya untuk tersenyum.”

Search
Archives